Thursday, December 11, 2014

Sistem Menghafal di Indonesia

Khusnul Roifah

“Menghafal” sebuah kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Sejak SD, kita sudah mengenal istilah menghafal. Menghafal ibarat sudah menjadi budaya di wajah Sistem Pendidikan Indonesia. Sejak SD, kita seolah-olah dituntut untuk menghafalkan semua materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru kita. Guru kita mnjelaskan materi pelajaran yang ada di buku paket, LKS atau buku sejenisnya. Lalu guru menugaskan sekertaris kelas untuk maju, dan menulis materi yang ada di buku. padahal sudah jelas-jelas semua siswa di kelas itu mempunyai buku yang sama, dan materi yang sama seperti apa yang ditulis di papan tulis. Ya begitulah pengalaman menyalin dan menghafal saya ketika duduk di bangku Sekolah Dasar.
Ketika masa-masa ulangan atau tes akan datang, semua siswa getun menghafal materi yang akan diujikan di depan kelas. Ada yang menyendiri, ada yang berkelompok untuk menghafalkan materi yang akan di ujikan. Sungguh pemandangan yang sudah biasa kala itu. Entah hanya saya yang merasakan, atau kah orang lain juga merasa sama seperti saya. Ketika detik-detik menjelang ujian akan berlangsung, siswa lebih getun untuk mereview “hasil hafalannya”. Saya merasa terbebani ketika seorang anak mengucapkan hasil belajarnya yang amat sangat mirip dengan buku. Tindakan anak tersebut membuat saya gugup dan tidak tenang sebelum menghadapi ulangan atau tes. Detik-detik menjelang tes atau ulangan yang seharusnya di gunakan untuk bercengkrama dengan teman, merilekskan otak sebelum kita menghadapi tes. Yang terjadi hanyalah semakin gugup mendengar teman-teman yang lain menghafalkan materi.
Soal tes dari guru, memang kebanyakan berasal dari buku yang dimiliki oleh siswa. sehingga tercipta mental-mental menghafal pada anak. Soal tes seharusnya bersifat pemahaman agar lebih mengembangkan pola pikir anak. Seperti pengalaman saya ketika SMK, ada salah seorang guru yang menuntut siswanya untuk menjawab soal tes dari beliau harus sama persis dengan yang ada di buku. “Hadeeeh, males ngafalin”, “belum belajar semua”, “belum hafalan semua”, kata-kata yang biasa diucapkan oleh teman-teman ketika akan menghadapi soal tes dari beliau.

Dengan menghafal tidak akan menyebabkan siswa paham dengan materi yang disampaikan oleh guru. Siswa cenderung akan lupa materi yang telah diajarkan oleh guru setelah ada Ulangan Akhir Semester. Mereka merasa beban yang tela dipikul selama satu semester telah hilang setelah adanya UAS. Sistem Menghafal di Indonesia harus segera diapuskan, harus segera dibongkar. Sistem pendidikan di Indonesia harus mampu mengubah kebiasaan lama siswa yaitu menghafal. Dengan menghafal tidak akan membuat pendidikan di Indonesia maju.

No comments:

Post a Comment