Thursday, December 11, 2014

Mempertahankan Eksistensi Sekolah dengan Tawuran?

@ilhamxfarid

            Tawuran atau tawur menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI adalah perkelahian ramai-ramai atau perkelahian massal. Sedangkan menurut saya pribadi tawuran adalah suatu perkelahian antar kelompok yang terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif. Kenapa terstruktur ? karena setiap kelompok yang melakukan tawuran telah mempunyai susunan anggota yang jelas mulai dari ketua, wakil ketua, seksi-seksi sampai anggota. Kenapa sistematis? Karena kelompok yang melakukan tawuran telah terikat oleh sistem yang telah disepakati oleh masing-masing kelompok, contohnya waktu dan tempat tawur. Kenapa masif? karena setiap kelompok memiliki jiwa solidaritas dan loyalitas yang kuat, tak heran jika ada salah satu anggota kelompok yang merasa terlecehkan oleh beberapa pihak maka anggota kelompok yang lain ikut membelanya walaupun membela disini tak jarang diberi bumbu-bumbu kekerasan.
            Tawuran terjadi karena berbagai hal, tidak bisa saya sebutkan disini apa penyebab tawuran itu karena saya sendiri belum pernah dan tak akan pernah melakukan tawuran. Karena menurut saya tawuran itu adalah kegiatan yang tak ada gunanya. Dan jika saya menjadi ketua MUI maka saya akan mengharamkan tawuran. Kenapa? karena dasar dari penetapan pengharaman itu terjadi karena tawuran lebih banyak mengandung mudharatnya atau kerugiannya dibanding manfaat, namun­  tidak ada manfaat yang didapat dari tawuran.
            Parahnya lagi para pelaku tawuran ini biasanya dilakukan oleh remaja tanggung yang masih duduk di bangku sekolahan seperti SMP sampai SMA/SMK. Jika ada lagi ungkapan yang menyatakan “tak pernah makan bangku sekolah” untuk menganalogikan suatu yang tidak sopan. Menurut saya ungkapan ini sudah tidak tepat lagi. Karena yang “telah makan bangku sekolahan” saja perilakunya sudah seperti berandalan. Walaupun yang melakukan tawuran ini sebagian kecil dari seluruh siswa-siswi SMP dan SMA/K yang ada di Indonesia.
            Biasanya siswa-siwa pelaku tawuran ini, saya sebut ‘berandal sekolah’ melakukan tawuran dengan dalih untuk mempertahankan harga diri sekolahnya atau persaingan eksistensi antar sekolah. Saya juga bingung mengapa untuk mempertahankan eksistensi sekolah harus melakukan perkelahian konyol yang tidak jarang membawa pelakunya mendapat panggilan dari yang maha kuasa atau bahasa kasarnya tewas. Mbokyao agar sekolahnya tetap eksis diantara sekolah-sekolah yang lain ya harus menorehkan prestasi-prestasi yang gemilang. Zaman era global kok masih sering tawuran, emang masih hidup di zaman pra sejarah ?

            Walaupun sudah ada peraturan yang dibuat tentang perkelahian oleh sekolah maupun dinas pendidikan terkait. Tapi ya tetap saja pelaku tawuran masih ‘berserakan’ dimana-dimana. (Saya sengaja menggunakan kata ‘berserakan’ yang biasanya dipakai untuk ‘sampah’ karena menurut saya para pelaku tawuran ini tak ada bedanya dengan sampah yang tidak ada gunanya). Menurut saya seharusnya ada peraturan yang lebih memiliki efek jera kepada pelaku tawuran ini seperti dikeluarkannya siswa tersebut ataupun yang lainnya. Peran pendidik dalam hal memperbaiki moral para siswanya juga sangat diperlukan.

No comments:

Post a Comment