Friday, December 19, 2014

Apa Kabar dengan SLB ?

Nur Rofikoh
FB : Nur Rofikoh

Saat ini, pendidikan di Indonesia masih terus diperbaiki oleh pemerintah. Mulai dari sistemnya, pemerataannya, dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan demi majunya kualitas pendidikan di Indonesia. Akan tetapi, pada kenyataannya masih saja terjadi ketidakseimbangan. Untuk pendidikan formal seperti SD, SMP, SMA mungkin sudah sering kita dengar. Namun, bagaimana dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) ? Masih sedikit orang yang peduli pada SLB- SLB yang tersebar di seluruh Indonesia. Jangankan sekolahnya, untuk anaknya saja (anak berkebutuhan khusus) masih banyak orang yang memandang dengan sebelah mata. Saya sedikit miris dengan kondisi SLB yang ada di Indonesia.
Memang, tidak semua SLB yang ada di Indonesia kondisinya memprihatinkan. Akan tetapi, tetap saja masih banyak SLB yang perlu perhatian lebih. Saya pernah mengunjungi salah satu SLB, dan saya cukup prihatin dengan kondisi di sana. Sekolah tersebut, lokasinya masuk ke dalam pemukiman masyarakat. Akses menuju sekolah tersebut bisa dibilang cukup sulit karena harus melewati gang kecil. Sekolah itu hanya memiliki 5 staf pengajar. Dan berdasarkan penuturan salah seorang guru di sana, terkadang satu orang guru mengajar dua ketunaan. Hal ini disebabkan karena kurangnya staf pengajar. Misalnya saja mengajar tuna netra dan tuna grahita. Bahkan terkadang, kepala sekolah ikut turun tangan untuk mengajar ketika staf pengajar di sana sedang repot. Untuk masalah fasilitas pun mereka masih kekurangan.
Sekolah itu hanya memiliki empat kelas, sehingga terkadang dua kelas dicampur menjadi satu. Untuk anak- anaknya pun dicampur menjadi satu, tidak dipisahkan berdasarkan ketunaan. Karena idealnya, sebuah SLB pembelajarannya harus dipisahkan antar ketunaan atau kemampuan anaknya. Selain itu, guru yang seharusnya hanya mengampu lima orang anak, di sekolah tersebut harus mengampu 15 orang anak. Salah seorang guru di sana mengakui bahwa dengan keadaan yang seperti itu, terkadang mereka menjadi hilang konsentrasi atau konsentrasinya terpecah. Proses pembelajarannya pun masih belum maksimal, karena kurangnya fasilitas yang mendukung pembelajaran anak per ketunaan.

No comments:

Post a Comment