Thursday, January 8, 2015

Sistem Pendidikan Perlu dibenahi

Ika Wulandari

Sistem pendidikan perlu dibenahi? Yaa, memang benar. Sistem pendidikan di Indonesia memang harus dibenahi agar pendidikan kita dapat menghasilkan generasi yang mampu bersaing di kancah globlal. Tapi apakah harus memberhentikan kurikulum yang sedang setengah berjalan? Bahkan belum semua marasakannya. Apakah ini tidak membingungkan?
            Salah satu alasan K-13 diberhentikan adalah karena sistem penilaian K-13 yang memerlukan waktu yang cukup lama. Guru harus bekerja keras ketika mendekati waktu pembagian rapor. Rapor dalam K-13 berbeda dengan rapor dalam kurikulum sebelumnya. Dalam rapor ini tidak lagi berisikan angka merah, jadi siswa tak perlu khawatir jika rapornya mendapat nilai rendah dan berwarna merah.  Rapor ini berisikan nilai A+ sampai C- dan berisikan deskripsi dari kemampuan setiap siswa. Tentunya guru akan kewalahan dalam menulis deskripsi nilai dari kemampuan setiap siswa.
            Kurikulum 2013 baru berjalan setengah perjalanan, dan pastinya membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Tak harus diberhentikan, namun tingkatkanlah kompetensi dari guru-guru tersebut agar tak memakan waktu lama untuk beradaptasi. Jangan langsung beranggapan bahwa sesuatu tak layak pakai untuk bangsa ini.
            Banyak hal bermanfaat lain yang dapat dipetik dari K-13 ini.  Dari satu buku kita dapat belajar berbagai materi dan dapat dikaitkan langsung dengan kehidupan kita sehari-hari. Pembelajaran yang tadinya hanya menulis dan mendengar, dengan K-13 pembelajaran menjadi menyenangkan dengan berbagai media pembelajaran yang menunjangnya. Namun berbagai media pembelajaran yang menyenangkan tak mampu didapat jika guru tak kompeten dalam mengemasnya. Lagi lagi yaa, harus meningkatkan kompetensi dari guru, bukan memberhentikan sesuatu yang bermanfaat di tengah jalan.
            Sistem pendidikan di Indonesia memang perlu dibenahi. Pembenahan sistem pendidikan bisa dimulai dari meningkatkan kompetensi guru. Kompetensi keprofesionalan guru harus dilmiliki oleh setiap guru agar guru lebih mudah beradaptasi dengan perubahan zaman

Singapura dengan Sistem Pendidikannya

Ika Wulandari

Kemajuan bangsa salaah satunya ditentukan oleh pendidikan bangsa tersebut. Singapura adalah negara yang kecil namun menjadi negara termaju di Asia Tenggara. Hal ini terjadi salah satunya karena Singapura memiliki pendidikan yang sangat bagus. Pendidikan di Singapura disusun menggunakan sistem pendidikan yang sangat bagus untuk menjadikan masyarakatnya mampu bersaing di dunia global.
            Sistem pendidikan di Singapura didasarkan pada pemikiran bahwa setiap siswa mempunyai potensi dan bakat tersendiri yang perlu dikembangkan. Pendidikan Singapura awalnya mengunakan sistem tradisional, namun setelah melihat potensi dan bakat siswa yang harus dikembangkan maka Singapura menggunakan cara yang fleksibel untuk mengembangkan potensi dan bakat itu. Dan akhirnya cara-cara untuk menembangkan potensi dan bakat siswa dijadikan sebagai dasar yang permanen.
            Pendidikan di Singapura memiliki kurikulum yang membuat siswanya mampu berinovasi dan memiliki semangat menjadi pengusaha. Pendidikan ini mengharapkan siswanya kelak akan mampu bertahan di lingkungan persaingan dan memperoleh masa depan yang lebih cerah.
Keunggulan dari sistem pendidikan di Singapura telah diakui oleh dunia. Banyak warga asing yang bersekolah di Singapura. Singapura menerima berbagaai siswa dari luar negeri selama masih ada tempat. Singapura juga memberikan beasiswa untuk siswa dari negara asing. Awalnya agar mereka mau bekerja di Singapura, namun ini hanyalaah agar mereka kelak akan mengenang Singapura dan akan menjadi relasi dengan negara lain.
Pendidikan di Singapura juga ada Ujian Nasional untuk evaluasi siswa. Tetapi ujian ini tak menentukan kelulusan. Di Singapura semua siswa berhak melanjutkan sekolahnya. Namun hanya yang benar-benar kompeten yang dapat masuk ke universitas di Singapura, sedangkan yang kurang kompeten melanjutkan ke universitas luar negeri.
Singapura membentuk masyarakatnya menjadi masyarakat yang benar-benar kompeten melalui pendidikannya. Sistem pendidikan di Singapura selalu melakukan evaluasi bagi kurikulumnya. Setiap ada perubahan zama, Singapura selalu menyisipkannya dalam kurikulum pendidikannya.
Apabila pendidikan di Indonesia digunakan untuk menghasilkan siswa yang kompeten, tentunya Indonesia akan menjadi negara maju seperti Singapura. Jangan mau kalah dengan Singapura yang memiliki wilayah yang sedikit dan tak memiliki sumber daya alam apapun.

Friday, January 2, 2015

MOS! ahmad rifai

                                                                          MOS!
                                                                       ahmad rifai

Masa Orientasi Siswa (MOS), hari-hari pertama masuk sekolah biasanya para siswa baru dihadapkan dengan program ini di sekolah. Program ini biasanya ditujukan untuk mempersiapkan peserta didik dalam memasuki pendidikan. Materi umum yang disampaikan dalam MOS biasanya adalah pengenalan warga sekolah beserta visi dan misi lembaga, pengenalan lingkungan dan budaya sekolah, pembinaan tata krama (akhlak mulia), dan penyampaian wawasan kebangsaan. Tujuan dan materi-materi yang disampaikan didalam kegiatan MOS menunjukkan bahwa program ini tetap dipandang penting. Selain berfungsi sebagai tahap awal interaksi dan perkenalan antarsiswa baru, program ini juga bermanfaat untuk mengondisikan mereka sejak awal. Artinya, melalui program MOS siswa baru akan mengalami transfer pengetahuan dan nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah. Oleh sebab itu, penyelenggaraannya harus dilakukan sebaik mungkin dengan menjauhkan sifat-sifat perploncoan, antikekerasan, antidemokrasi, serta tindakan lainnya yang tidak mendidik. Tapi sayangnya, masa orientasi yang semestinya menjadi tonggak bagi keberlangsungan belajar bagi siswa baru tersebut sering tercederai dengan berbagai bentuk tindak kekerasan. Kementerian Pendidikan Nasional telah  dengan tegas  melarang segala bentuk kekerasan pada  kegiatan MOS. Namun, kekerasan tersebut  masih saja  terjadi. Hampir setiap tahun dapat dipastikan di sejumlah media, baik cetak maupun elektronik, menyajikan liputan berbagai bentuk kekerasan di sekolah.

Ragam dan bentuk kekerasan tersebut dilakukan oleh peserta didik senior kepada juniornya. Banyak orang yang beranggapan bahwa  kekerasan ini  dilakukan  dalam bentuk perilaku, seperti pemukulan atau hukuman fisik. Padahal, kekerasan yang umum terjadi tidak hanya dalam bentuk perilaku, tetapi juga dalam konteks atau struktur. Kekerasan sebagai konteks atau struktur  adalah suatu  tindak  kekerasan  yang  terjadi berdasarkan sistem.  Dalam  banyak kasus, kekerasan seperti ini mengakibatkan penderitaan terhadap orang lain, khususnya peserta didik baru. Sekalipun bentuknya kurang nyata, kekerasan konteks dan struktur semacam  ini dapat mengganggu dan merusak orientasi siswa baru. Mereka yang dari awal telah mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan, disebabkan bentuk kekerasan yang tersistem ini kemudian mengubah mereka menjadi brutal. Kebrutalan peserta didik baru ini dapat lahir karena intimidasi yang dilakukan oleh para seniornya pada saat MOS. Akibatnya, di dalam diri peserta didik baru akan muncul perasaan galau, kebencian, ketakutan, dan ketidakpercayaan terhadap para seniornya. Berbagai tindak kekerasan, serta perilaku negatif lain yang terjadi di sekolah disebabkan karena minimnya pendidikan karakter.



SEKOLAH MENENGAH ATAS ahmad rifai

                                          SEKOLAH MENENGAH ATAS
                                                          ahmad rifai
Tau enggak betapa pentingnya pendidikan? Pendidikan dikatakan penting karena pendidikan merupakan modal utama bagi suatu bangsa untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang ada. Nah sumberdaya manusia yang berkualitas inilah yang akan mampu mengelola sumber daya alam serta memberikan layanan secara efektif dan efisien supaya kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Oleh sebabnya, hampir semua bangsa berusaha meningkatkan kualitas pendidikan yang dimilikinya, termasuk negara kita tercinta Indonesia. Pendidikan kan ada 3 macam Formal, informal dan nonformal, nah yang akan saya bahas kali ini adalah salah satu dari jenjang pendidikan formal yaitu sekolah menengah atas.

Sekolah menengah atas atau disebut juga pendidikan menengah ini merupakan lanjutan dari pendidikan dasar. Disekolah menengah atas merupakan jenjang dimana kita mengenal dan belajar banyak hal, baik itu dari dalam maupun luar jam pelajaran. Diluar jam pelajaran salah satunya organisasi,organisasi yang sebenarnya. Dalam mengikuti organisasi di SMA siswa dituntut agar mampu merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas untuk para anggota organisasinya.

Dan satu yang tidak bisa dipungkiri, masa sekolah menengah atas adalah suatu masa metamorfosa bagi mayoritas anak dari yang dulunya cupu menjadi mengerti masalah style. Masa dimana kita mengalami ribuan kenangan yang tak bisa untuk dilupakan, kenangan manis dan pahit entah itu dengan teman ataupun dengan guru. Masa dimana kita dituntut untuk selalu disiplin, entah itu disiplin waktu, pakaian ataupun tindakan.(senin sampai selasa seragam putih abu dengan baju yang harus dimasukan + sepatu hitam polos dan kaos kaki putih, jam 7 kurang 15 menit harus sudah disekolah lalu mengalami suasana penjara selama  kurang lebih 7 jam dengan durasi 45 menit di masing-masing mata pelajarannya)  Di sekolah menengah atas juga adalah suatu masa dimana kita mengenal yang namanya cinta, mungkin juga pertama kalinya nembak cewek, pertama kalinya punya pacar dan pertama kalinya ditolak cewek, dan bahkan dari yang pertama kalinya itu jadi keseringan.. haha. Sekilas mengenai gambaran sekolah menengah atas yang pernah saya ketahui.

Kekerasan di Sekolah ahmad rifai

                                                          Kekerasan di Sekolah
                                                                ahmad rifai

Bermacam-macam tindak kekerasan, kejahatan seksual, serta perilaku negatif lain yang terjadi di sekolah dsebabkanr karena minimnya pendidikan karakter. Yang harus dilakukan dalam sistem pendidikan kita adalah mulai lagi diberlakukanya pembentukan karakter. Saat ini, perilaku siswa atau anak sudah bergeser jauh. Pergeseran moral siswa saat ini berawal dari pendidikan dasar yang tidak lagi memperhatikan pembentukan karakter anak. Disini perlu adanya peran guru dan sekolah untuk mengajarkan siswanya soal bagaimana mereka harus berperilaku, bergaul dengan sesama, sopan santun, serta perilaku positif lainnya. Siswa juga harus diberi pemahaman bahwa jika mereka melakukan perbuatan melanggar hukum, mereka akan mendapatkan dampaknya, baik dampak hukum maupun sosial.  Perlunya ada mata pelajaran seputar budi pekerti yang fokus mengajarkan bagaimana siswa berperilaku. Kurikulum pendidikan di Indonesia harus sudah mulai kembali kepada pembentukan soft skill dan pengembangan karakter. Kekerasan juga bisa lahir karena telah tertutupnya pintu toleransi dan sikap hormat junior terhadap seniornya.  Dalam pandangan peserta didik  junior, perbedaan bukanlah kekayaan yang dapat dimaknai sebagai potensi untuk saling melengkapi. Tetapi, lebih dari itu, perbedaan akan selalu mereka pandang sebagai sumber dari ancaman terhadap eksistensinya di sekolah. Oleh sebab itu, mereka akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga eksistensinya agar tidak dicampakkan begitu saja oleh orang‐orang di sekelilingnya.

Para guru harus sadar akan tanggung jawabnya mendidik siswa, bukan semata-mata menjalankan pekerjaan mengajarkan mata pelajaran. Saat siswa sekolah, berarti orangtua itu menitipkan anaknya agar terdidik dan terlindungi selama jam sekolah. Sehingga hal-hal negatif harusnya tidak terjadi di sekolah. Guru juga harus melakukan kontrol ketat terhadap siswanya. Yang perlu ditekankan, guru juga harus berperan sebagai pelindung siswanya agar tidak jadi korban atau pelaku perbuatan negatif. Di lingkungan pendidikan seorang guru harus tahu bahwa mereka punya kewajiban untuk melindung keselamatan siswa didik selama di sekolah dari tindakan kekerasan, baik kekerasan fisik atau psikis. Mereka tanggung jawab guru selama di sekolah. Peran keluarga dalam mendidik anak juga harus dikedepankan. Orangtua juga harus memberikan pendidikan informal untuk menuntutn anak berperilaku baik.

SMA atau SMK? ahmad rifai

                                                                  SMA atau SMK?
                                                                    ahmad rifai
Jujur aja ni sob, Setelah jenjang pendidikan menengah pertama pasti banyak yang bingungkan mau pada ngelanjutin kemana, karena ada beberapa jenis tingkat sekolah setelah sekolah menengah pertama yaitu diantaranya SMA, MA, SMK, SMEA dan lain-lain. Masing-masing diantara sekolah tersebut berbeda dalam penyusunan kurikulumnya menurut visi dan misi masing-masing. Sebagian diantara mereka ada yang lebih menekankan teori dan sebagian lagi lebih mengedepankan praktik. Sepengetahuan saya ni sob, selama ini pada kenyataannya banyak para siswa yang sudah lulus sekolah tingkat pertama ( SMP dan MTs), untuk meneruskan ketingkat yang selanjutnya tidak mempertimbangkan jenis sekolah. Sebagian besar diantara mereka masuk kesekolah tingkat atas hanya ikut-ikutan teman, mengikuti trend, factor biaya dan sebagainya. Seharusnya mreka memikirkan langkah apa yang akan mereka lakukan setelah menempuh jenjang tingkat atas ( SMA dan SMK). Karena ketika salah memilih jenis pendidikan maka akan berpengaruh pada prospek dilapangan kerja, enggak pengen lulus sekolah tapi nganggur kan sob.

Perlu dipahami bersama ni sob, bahwa SMA adalah sekolah tingkat atas yang mempersiapkan para siswanya untuk masuk keperguruan tinggi umum, sekolah tingkat ini berada dibawah naungan diknas. Disamping itu ada MA (madrasah aliyah), jenis sekolah tingkat ini mempersiapkan para siswa untuk masuk keperguruan tinggi islam akan tetapi tidak memungkinkan juga untuk masuk keperguruan tinggi umum. Karakteristik SMA itu diantaranya materi pembelajaran lebih mangarah kepada teori dari pada praktik, tamatannya tidak siap kerja, dan tempat belajar lebih tertuju di sekolah. Sekolah tingkat ini memang sangat cocok bagi para siswa yang akan melanjutkan keperguruan tinggi, karena kajian teori lebih mendalam dari pada SMK. Nah untuk praktiknya bisa diperdalam di perguruan tinggi yang sedang diminatinya untuk tahap selanjutnya.

Sedangkan SMK adalah jenjang pendidikan sekolah tingkat atas yang mempersiapkan peserta didik untuk bekerja di lapangan secara langsung, rata rata SMK berada dibawah naungan Diknas. Karena jenjang sekolah tingkat ini didesain untuk mencetak siswa yang siap pakai kerja di lapangan dan beberapa ciri-cirinya adalah materi pembelajaran lebih mengarah kepada praktek dari pada teori, dapat dikatan 60% paraktek  dan 40% teori, tamatannya siap kerja, dan untuk tempat belajar bisa di sekolah ataupun di dunia kerja.

Tapi bukan jaminan untuk tamatan SMA yang tidak dapat melanjutkan di perguruan tinggi mereka nganggur sob, karena sepengetahuan saya para tamatan SMA banyak juga yang bekerja di pabrik, supermarket, dan lain sebaginya. Itu menunjukkan mereka dapat memanfaatkan ijazahnya di saat-saat tertentu. Dan banyak juga lulusan SMK yang tidak mendapat peluang pekerjaan, meskipun di bangku sekolah sudah melaksanakan praktek secara nyata. Tapi hal itu enggak perlu kita permasalahkan. SMA maupun SMK, semuanya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sob. Yang jelas semakin beragam pendidikan di Negara kita akan semakin mudah untuk membentuk sumberdaya alam yang sangat bermutu.

Guru Idaman di Sekolah Formal ahmad rifai

                                        Guru Idaman di Sekolah Formal
                                                     ahmad rifai
Menjadi seorang guru tidaklah harus seseorang yang  mampu menguasai dengan detail  keilmuannya. Untuk menjadi guru biologi, dia tidak harus mengetahui atau menghafal semua nama latin tumbuhan yang ada di dunia. Begitu pula dengan guru bahasa Inggris tidak harus mengetahui segala kosakata yang ada di kamus Oxford. Syarat menjadi guru yang baik ialah dia harus mempunyai kompetensi yang cukup dengan keilmuwannya yang berhubungan dengan dunia pendidikan, apalagi ditambah dengan seorang tersebut paham dengan dasar-dasar pendidikan seperti kurikulum dan model-model pembelajaran pasti ini akan sangat menunjang. Untuk menjadi seorang guru juga harus mempunyai jiwa kreativitas yang tinggi, karena dengan adanya kreativitas ini dapat mendorong untuk menemukan berbagai model pembelajaran yang cocok dikelasnya, dapat mengerti bagaimana cara memberikan hukuman secara bijak, dan lain sebagainya. Karena kreativitas guru tersebut kan membuatnya beda dengan guru yang lain maka inilah yang akan menyebabkan para siswa merindukan mata pelajarannya.  Sifat ikhlas setidaknya seorang guru juga harus memilikinya. Sifat ikhlas inilah yang jarang dimiliki banyak guru. Ketika paham kapitalisme telah masuk kemasyarakat, maka dunia pendidikan terkena imbasnya. Demikian juga guru. Banyak sekali jiwa guru yang mulai terpengaruh paham ini sehinga niat mereka mengajar menjadi tidak tulus. Banyak diantara mereka merasa apa yang mereka sampaikan tidaklah setimpal dengan gaji yang mereka terima, sehingga akibatnya ketika mereka berada di kelas mereka tidak optimal. Kadang mereka menyampaikan materi tapi tidak dengan sepenuhnya. Menurut saya tujuannya adalah agar sebagian dari materi ini dapat mereka sampaikan di les. Dengan memberikan les, mereka dapat tambahan penghasilan. Dengan adanya sikap ini, kualitas pembelajaran menjadi berkurang. Semangat dan motivasi kelaspun juga ikut melemah. Dan ini semua terjadi karena guru melupakan aspek yang sangat penting dalam hidup mereka yaitu aspek ikhlas. Seumpama guru ikhlas mengajar, maka keikhlasan ini akan memberikan semangat yang luar biasa pada guru untuk berusaha keras membuat anak didik mereka paham akan materi yang disampaikan. Berarti menurut saya menjadi seorang guru tidaklah harus sseorang yang cerdas, brilian, mempunyai IQ superior, serta mengetahui seluk beluk keilmuwanya dengan detail.  ada tiga bekal yang harus dimiliki seseorang untuk dapat menjadi seorang guru yang baik. Tiga bekal yang dimaksud di sini adalah:  Kompetensi yang cukup,  kreatifitas yang memadai sehingga mampu mengajar dengan baik, serta memiliki sifat ikhlas dalam dia memberikan ilmu terhadap anak didiknya.