Saturday, September 27, 2014

Carut-marut Sistem Pendidikan Indonesia

Ade Romadoni

Berdasarkan artikel yang diterbitkan 27 November 2012 pada website BBC, Sistem pendidikan Indonesia menempati peringkat terendah di dunia menurut tabel liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson. Ranking ini memadukan hasil tes internasional dan data seperti tingkat kelulusan antara 2006 dan 2010. Indonesia berada di posisi terbawah bersama Meksiko dan Brasil. Dua kekuatan utama pendidikan, yaitu Finlandia dan Korea Selatan, diikuti kemudian oleh tiga negara di Asia, yaitu Hong Kong, Jepang dan Singapura.
Melihat dari sistem pendidikan yang berhasil, studi itu menyimpulkan bahwa mengeluarkan biaya adalah hal penting namun tidak sepenting memiliki budaya yang mendukung pendidikan. Studi itu mengatakan biaya adalah ukuran yang mudah tetapi yang lebih kompleks adalah perilaku masyarakat terhadap pendidikan, hal itu dapat membuat perbedaan besar.
Lalu pertanyaannya sekarang adalah dimana letak kesalahan tersebut?
Masalah pendanaan, seperti adanya BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang sudah diterapkan saat ini memang cukup membantu, akan tetapi perlu dicermati pula mengenai distribusi serta sasaran dari pendanaan tersebut. Di wilayah-wilayah tertentu seorang siswa (dari kalangan mana saja baik kaya maupun miskin) dapat terbebas dari uang SPP dari SD Negeri hingga SMA Negeri, namun di wilayah-wilayah lain hal tersebut masih belum dapat terlaksana. Masalah pendanaan pendidikan juga akan berimbas langsung terhadap ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan. Hal seperti ini lah yang dianggap penting tapi disepelekan dan berimbas pada sistem pendidikan yang semrawut.
Kemudian permasalahan pelik lainnya adalalah Permasalahan Metode dalam Sistem Pendidikan Nasional. Metode yang digunakan sekarang ini nyatanya adalah guru aktif menyuapi siswanya atau biasa dikatakan guru yang aktif tetapi siswanya pasif. Pada teorinya sekarang ini adalah menerapkan student centered tetapi masih belum berjalan dengan baik penerapannya. Jika hal ini terus terjadi pada sistem pendidikan di Negara ini akan banyak anak-anak yang bersekolah tidak berkembang kreativitasnya, inovasi, dan jiwa wirausahanya. Masalah penilaian yang tidak menerapkan nilai sikap juga mempengaruhi siswa dan guru lebih terfokus pada nilai raport dan UN, sehingga nilai menjadi segala-galanya di sistem pendidikan Indonesia.

Referensi:


No comments:

Post a Comment