Thursday, January 1, 2015

Totto-chan

Khusnul Roifah

Totto Chan gadis cilik di jendela, sudahkah kalian membaca novel tersebut? Novel ini menceritakan seorang gadis kecil yang lucu, ceria, aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Novel tersebut menceritakan bagaimana kehidupan di sekolah yang layaknya sekolah biasa dan kehidupan di sekolah yang berbeda dengan lainnya. Sekolah yang berada di atas gerbong kereta. Bagaimana sistem pendidikan di sekolah tersebut, bagaimana pelajaran di sekolah tersebut, bagaimana kehidupan di sekolah tersebut, dan bagaimana anak-anak diajarkan bagaimana cara menjadikan dirinya benar-benar baik.
Totto Chan dikeluarkan dari sekolah formal walaupun baru memulai sekolah beberapa minggu. Ini karena perbuatan Totto Chan yang dianggap mengganggu teman-temannya. Ia membuka dan menutup pintu mejanya dengan amat keras. Kemudian ia sering memandang ke luar melalui jendela. Ia mengamati segala sesuatu yang berada di luar ruangan kelas. Karena ruang kelasnya berada di lantai dasar dan jendelanya menghadap jalan raya. Totto chan berdiri di depan jendela, melihat dan mengamati pemusik jalanan yang lewat dan memanggilnya untuk memainkan musik di depan kelas. Menurut gurunya, perbuatan totto chan sangat mengganggu anak lain karena menimbulkan keributan. Dan Ia mencorat coret mejanya dengan krayon. Itu yang membuat guru yang mengajar Totto Chan tidak tahan dengan perilakunya. Totto Chan kemudian dikeluarkan dari sekolah formal tersebut.
Kemudian, mama Totto Chan mendaftarkan Totto Chan ke sekolah baru yang bisa menerima tingkah laku Totto Chan. Tomoe Gakuen, iya Totto Chan akan bersekolah disitu. Sekolah tanpa bangunan gedung yang tinggi, tanpa pagar yang terbuat dari beton-beton. Sekolah yang pembelajarannya dilakukan diatas gerbong kereta yang sudah didesai sedemikian rupa hingga berbentuk sebuah ruang kelas di dalam kereta. Iu membuat Totto Chan merasa nyaman.
Biasanya, di sekolah formal anak-anak memiliki tempat duduk yang tetap. Lain halnya di Tomoe, anak-anak bebas memilih tempat duduk yang ia sukai. Jam pelajaran yang ada di Tomoe juga berbeda dengan sekolah biasanya. Anak-anak di Tomoe dibebaskan untuk memilih pelajaran yang ia sukai. Anak yang menyukai pelajaran Fisika, ia akan mempelajari Fisika terlebih dahulu. Dengan cara seperti ini, guru akan lebih mengetahui bakat dan minat dari anak didiknya. Guru siap menerima konsultasi dari semua muridnya. Biasanya, setelah semua anak selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru anak-anak akan berjalan-jalan setelah makan siang.
Sepertinya Tomoe adalah tempat yang tepat untuk Totto Chan, ia diajarkan belajar secara mandiri, diajarkan tanggung jawab tanpa harus menghilangkan sifat Totto Chan yang aktif. Mr. Kobayasi, kepala sekolah Tomoe Gakuen adalah orang yang selalu mengatakan “Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu itu kan?”. Beliau sepertinya tahu pa yang harus dilakukan untuk membuatnya menjadi anak yang benar-benar baik. Beliau memiliki keyakinan bahwa setiap anak dilahirkan dengan watak baik.

Kepala sekolah di Tomoe sangatlah bijaksana, sepertinya ia tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan perkembangan anak didiknya. Kepala sekolah yang bijak, sistem pendidikan yang tidak kaku, pendidikan yang membebaska anak mengembangkan bakat dan minatnya itulah yang diperlukan untuk menjadikan anak menjadi berprestasi.

Hari Guru

Khusnul Roifah

Tanggal 25 November kemarin, kita telah memperingati hari guru Nasional. Guru, digugu dan ditiru. Ya seperti itulah gambaran untuk guru kita. Seseorang yang telah memberikan ilmu kepada kita, mendidik kita dari yang belum tahu materi pelajaran sampai kita benar-benar paham mengenai materi pelajaran. Sepertinya ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa memang pantas diberikan kepada guru-guru kita. Melihat tugas-tugasnya yang mulia, membagikan ilmu kepada kita tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.
          Pengertian pendidik menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Itu juga berarti guru adalah sebagai pendidik. Guru tidak hanya memberikan materi kepada kita, tetapi para guru bertugas dan bertanggung jawab untuk mendidik siswanya. Guru dibebani tanggung jawab dari orang tua, masyarakat dan pemerintah. Guru harus mampu mendidik siswa sehingga siswa memiliki kecakapan tidak hanya dibidang akademik tetapi juga perilakunya diharapkan akan semakin baik.
        Guru mendidik siswanya dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Ia menuntun siswanya agar bisa menjadi kebanggaan orang tua dan berguna untuk semuanya. Guru melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. guru memberikan satu per satu materi pelajaran, memberikan motivasi kepada kita, menjadi sahabat kita, mencoba memahami karakter siswa-siswanya. Ya seperti itulah guru,walaupun pendidik kita adalah orang tua tetapi guru juga memiliki peran penting dalam tugasnya mendidik kita.
            Masih ingakah kalian dengan guru-guru kalian? Sewaktu saya masih di taman kanak-kanak, guru-guru saya mengajar saya dengan kasih sayang. Setiap hari guru memberikan senyuman kepada siswanya, mengajak kita untuk belajar, bermain, berkreasi. Tidak jarang ada guru yang bersikap galak dan tegas terhadap siswanya. Sehingga guru tersebut diberi julukan sebagai guru killer. Namun, dengan ke galakannya, dengan sifatnya yang tegas itu adalah salah satu cara untuk mendidik kita. Pernah ketika saya duduk di bangku SMP, guru saya menampar teman saya karena dia berbicara tidak sopan terhadap guru. Perbuatan guru yang berani menampar siswanya pasti ada alasannya. Guru tidak mau jika kelak siswanya akan menjadi pribadi yang tidak bisa menghormati orang lain, terutama orang yang lebih tua darinya.

Dengan tugas-tugasnya yang mulia, dengan predikatnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa sudahkah pemerintah memperhatikan kesejahterahan guru di Indonesia?  bagaimanakah dengan nasib guru honorer di negeri ini? Yang setiap hari mengucurkan keringat untuk membuat siswanya menjadi pintar, menjadi orang yang berguna untuk negeri ini kelak. Apakah mereka sudah merasakan kesejahterahan? Ini juga perlu mendapatkan perhatian khusus bagi pemerintah. Jangan sampai pahlawan di negeri ini dilupakan segala jasa-jasanya. Seperti lagu himne guru, guru adalah pelita dalam kegelapan, guru laksana embun penyejug dalam kehausan, guru sebagai patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Selamat hari guru untuk guruku dan untuk semua guru di negeri ini. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.

Ujian Nasional sebagai Sistem Kelulusan Siswa?

Khusnul Roifah

      Ujian Nasional, ibarat sudah menjadi momok yang menyeramkan bagi setiap siswa yang akan menghadapi kelulusan. Ujian Nasional adalah salah satu syarat terbesar untuk kelulusan siswa, walaupun masih ditambahkan dengan nilai rapor. Siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional biasanya mendapat perlakuan khusus oleh pihak sekolah. Menjelang detik-detik Ujian Nasional, biasanya siswa mendapatkan jam pelajaran tambahan untuk mata pelajaran yang akan diujikan. Ketika saya kelas XII SMK, sekolah telah menyusun jadwal jam pelajaran tambahan untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan mata pelajaran kejuruan. Jam pelajaran tambahan dilakukan setelah jam sekolah usai.
      Siswa yang akan menempuh Ujian Nasional seperti di drill.Mereka diberi soal-soal latihan ujian, lalu sekolah mengadakan Try Out, mendapatkan jam pelajaran tambahan. Tujuannya tidak lain yaitu untuk menyiapkan siswa ketika akan menghadapi soal ujian dan kemudian akan mendapatkan predikat lulus. Semua guru hampir setiap hari memberikan kata-kata motivasi untuk siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional.
     Ujuan Nasional, dua kata yang berhasil menyita perhatian semua pihak. Mulai dari siswa, biasanya siswa yang akan bertemu dengan Ujian Nasional akan tekun untuk belajar. Kemudian orang tua siswa, mereka menjadi rajin untuk mendoakan anaknya dan akan memasukkan anaknya ke bimbingan belajar untuk mempersiapkan anaknya ketika akan menghadapi ujian. Menjelang Ujian Nasional, bimbingan belajar menjadi ramai dengan penerimaan peserta baru. Tidak jarang bimbingan belajar tersebut menyajikan cara-cara instan untuk bisa mengerjakan soal ujian. Hal-hal seperti inilah yang akan mengubah mainset siswa bahwa yang penting adalah mendapatkan predikat lulus. Masalah memahami materi menjadi nomor sekian. Lalu guru-guru di sekolah, menjadi sering memberikan motivasi kepada siswa. Pihak sekolah menyusun jam pelajaran tambahan dan jadwal Try Out untuk siswa yang akan menghadapi ujian.
     Tidak jarang siswa merasa tertekan dengan semakin mendekatnya hari H. Ada persyaratan kelulusan bagi siswa yakni siswa harus mendapatkan nilai sekian untuk mendapatkan predikat lulus. Ketika hari H, siswa dihantui dengan pengawas yang berasal dari sekolah lain. Belum lagi isu kebocoran soal Ujian Nasional yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kemudian pendistribusian soal yang mengalami masalah di berbagai daerah.
Siswa seakan-akan mendapatkan guncangan yang amat dahsyat dan bertubi-tubi. Mereka sudah mempersiapka diri untuk mengahadapi ujian, kemudian ditambah dengan persyaratan nilai yang harus mereka tempuh, masih ditambah isu kebocoran kunci jawaban ujian, lalu masih ditambah lagi dengn pendistribusian soal yang mengalami masalahh.

     Masih bisakah menjadikan Ujian Nasional sebagai salah satu syarat penentu kelulusan? Melihat berbagai kasus kecurangan dalam ujian nasional. Seolah-olah selama tiga tahun belajar, nyawa siswa berada ditangan Ujian Nasional. Ilmu yang mereka dapat selama tiga tahun belajar, seolah-olah hasilnya akan berada pada 50 soal ujian. 50 soal ujian tersebut ibaratkan gambaran ilmu yang mereka dapatkan. Sistem penentu kelulusan siswa harus dipikirkan matang-matang oleh pemerintah agar tujuan Sistem Pendidikan di Indonesia tercapai.

Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Bakat dan Minat pada Anak

Alimi

Sejak lahir seorang anak sudah di anugerahi bakat yang istimewa oleh yang maha kuasa, namun terkadang bakat ini tidak mampu untuk berkembang sebagaimana mestinya karena ktidakpahaman orang tua atau bahkan fasilitas pendukung yang tidak diberikan secara optimal untuk mendukung segala potensi yang dimiliki seorang anak. Padahal banyak para ahli mengatakan bahwa masa kanak-kanak adalah masa emas di mana segala potensi seorang anak bias terlihat dan harus dikembangkan secara optimal.
Sehingga pada tahap-tahap itulah perna orang tua sebagai guru dirumah sangat penting dalam mendeteksi sejak dini, hal-hal apa saja yang di senangi oleh anaknya sehingga kelak anaknya akan menguasai hal yang di senanginya. Sungguh suatu ironi dimana sekarang orang tua lebih sering memaksakan kehendaknya untuk sekedar meraih prestise di masyarakat terhadap anaknya. Anak di paksa untuk mengikuti hala-hal yang tidak menjadi kesenangannya oleh orang tua, hingga terjadi pertengkaran yang pada akhirnya akan memadamkan semangat kreativitas seorang anak. Pola pengajaran orang tua terhadapa anak sangat penting dalam menumbuhkan bakat dan minat seorang anak, selain yang dia dapat di sekolah. Untuk itulah sifat egoism dari orang tua harus di hindari, agar seorang anak memiliki kebebasan menentukan pilihan hidupnya.
Hal-hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mengetahui dan mengembangkan bakat dan minat seorang anak untuk mencapai kesuksesan pendidikan, diantaranya adalah :
1.      Mendeteksi sejak dini hal-hal yang menjadi kesenangan seorang anak (contoh: melukis,bermain musik dll).
2.      Mengarahkan anak pada hobi yang menjadi rutinitasnya.
3.      Melakukan pengawasan dan pengajaran yang menyenangkan terhadap anak.
4.      Memberikan fasiltas lebih terhadap potrnsi atau bakat yang di mliki seorang anak.
5.      Orang tua harus bisa  menjalin komunikasi yang baik dengan anak, agar seorang anak bisa lebih terbuka terhadap segala yang dia rasakan, dan orang tua di sini bisa menjadi teman curhat yang baik bagi anak.
Dengan semua itu diharapkan orang tua lebih memperhatikan segala proses tumbuh kembang seorang anak baik secara fisik maupun psikologis. Sehingga orang tua bisa memberikan fasilitas atau penanganan yang tepat terhadap bakat yang dimiliki anaknya. Perhatian adalah kunci dimana hubungan antara orang tua dan anak bisa terjalin lebih intim, karena pada dasarnya tidak ada satupun orang tua di dunia ini yang menginginkan kegagalan terhadap anaknya, namun pasti menginginkan kesuksesan pada anaknya, dan kesuksesan tidak dapat diraih tanpa usaha dan perjuangan untuk memperoleh kesuksesan seorang anak di masa yang akan datang.

Pada akhirnya peran orang tua sangatlah besar terhadap kesuksesan seorang anak, memahami karakter anak dan bakat nya akan menjadi kunci keberhasilan anak dalam mencapai hal-hal yang menjadi kesenangannya. Untuk itulah orang tua juga menjadi factor penentu keberhasilan anaknya. 

Pemberhentian Kurikulum 2013, apa sebabnya?

Alimi

Pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolah-sekolah percontohan yang ada di Indonesia, memang pada awalnya menemui banyak pro dan kontra. Dari mulai pelaksanaannya yang terkesan terburu-buru tanpa memperhatikan kesiapan dari sekolah yang ada di Indonesia, juga sampai masalah SDM pengajar yang belum memadai, kurangnya sosialisasi yang mendalam terhadap isi dari kurikulum 2013 juga menambah daftar panjang kurang siapnya kurikulum ini untuk di implementasikan di ranah pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data dari Kemendikbud, tercatat sebanyak 6.221 sekolah di 295 kabupaten/kota seluruh Indonesia yang ditunjuk sebagai sekolah percontohan.
Ribuan sekolah tersebut terdiri atas 2.598 sekolah dasar, 1.437 sekolah menengah pertama, 1.165 sekolah menengah atas dan 1.021 sekolah menengah kejuruan. Sedangkan, pihak Kemendikbud mencatat saat ini ada 208 ribu sekolah di seluruh Indonesia yang sudah melaksanakan Kurikulum 2013. 
Tak ayal sekarang Mendikbud yang baru Anies Baswedan, mempertimbangkan dengan seksama berbagai kendala yang di alami dalam implementasi Kurikulum 2013, sehingga beliau dengan bijaksana mengehentikan segala kegiatan penerapan kurikulum 2013. Anies Baswedan mengungkapkan bahwa tidak ada satu kekurangan Kurikulim 2006 yang mengharuskan diganti menjadi Kurikulum 2013. Menurutnya Kurikulum 2006 justru memberi peluang kepada sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri, selain menggunakan kurikulum nasional.
"Ada keberagaman dan kebinekaan dalam Kurikulum 2006," ujar Anies.
Dengan alasan inilah mengapa penerapan kurikulum 2013 di hentikan, dan Mendikbud memberikan kelonggaran terhadap pihak sekolah untuk memakai kurikulum 2013 atau kurikulum 2006 yang di anggap yang paling pas untuk diterapkan di sekolah masing-masing. Dengan ini harapanya adalah sekolah-sekolah mampu mengoptimalkan segala potensi pengembangan pendidikan yang ada tanpa terkendala kurikulum yang beberapa bulan terakhir terkesan membebani pihak sekolah.

Dengan dihentikannya penerapan kurikulum 2013 ini, Mendikbud secara total akan melakukan evaluasi secara mendalam terhadap isi kandungan dalam kurikulum 2013 ini, sehingga nantinya akan di peroleh hasil resmi mengenai kurikulum mana yang harus diterapkan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Tidak menutup kemungkinan kurikulum 2013 akan di pakai lagi dengan beberapa perubahan, dan begitupun penerapan kembali kurikulum 2006 jika itu memang kurikulum yang paling tepat untuk di terapkan di dunia pendidikan Di Indonesia sekarang. Walaupun tidak di pungkiri pemberhentian kurikulum ini menimbulkan berbagai polemik di dunia pendidikan namun Mendikbud mengkalim ini adalah langkah yang paling tepat unutk mengkoreksi semuanya.

Pembelajaran yang Efektif, Siswa harus aktif

Alimi

Dewasa ini di dunia pendidikan perhatian akan peningkatan mutu proses belajar mengajar semakin meningkat. Metode "Cara Siswa Belajar Aktif" (CBSA, Student Active Learning) mulai dipraktekan. Hal ini menuntut dilakukannya berbagai metode yang tepat. Semua siswa yang sedang belajar secara aktif mempunyai ciri-ciri yang dapat dengan mudah diamati. Ciri-ciri tersebut yaitu: (1) Pengetahuan dialami, dipelajari, dan ditemukan oleh siswa; (2) Siswa melakukan sesuatu untuk memahami materi pelajaran (membangun pemahaman); (3) Siswa mengkomunikasikan sendiri hasil pemikirannya; (4) Siswa berpikir reflektif.
Sebagaimana konsep konstruktivisme yang sudah kita pahami betul, siswa yang aktif belajar selalu menemukan pengetahuan, informasi, atau keterampilan dengan mengalami langsung. Mereka dalam kegiatan pembelajaran dapat melakukan pengamatan atau penyelidikan, membaca dengan aktif (misal dengan pen di tangan untuk menggaris bawahi atau membuat catatan kecil atau tanda-tanda tertentu pada teks), mendengarkan dengan aktif (menunjukkan respon, misal tersenyum atau tertawa saat mendengar hal-hal lucu yang disampaikan, terkagum-kagum bila mendengar sesuatu yang menakjubkan, dsb).
Bila siswa belajar dengan aktif, maka dengan mudah kita bisa menemukan mereka sedang berlatih (misalnya mencobakan sendiri konsep-konsep misal berlatih dengan soal-soal), menggunakan kemampuan berpikir kreatif (misalnya mencoba memecahkan masalah-masalah pada latihan soal yang mempunyai variasi berbeda dengan contoh yang diberikan), serta berpikir kritis (misalnya mampu menemukan kejanggalan, kelemahan atau kesalahan yang dilakukan orang lain dalam menyelesaikan soal atau tugas). Siswa-siswa yang belajar secara aktif tampak pula mengomentari (tidak hanya meminta untuk dikomentari) , menyimpulkan  proses pembelajaran, mencoba memperbaiki kesalahan atau kekurangan dalam proses pembelajarannya, dan menyimpulkan  materi pembelajaran dengan kata-katanya sendiri.
Untuk menciptakan kestabilan dalam sistem memori jangka panjang, siswa perlu diberikan kesempatan untuk mengkomunikasikan sendiri hasil pemikirannya. Bagi siswa mengemukakan pendapat, menjelaskan sesuatu kepada teman sebangku atau sekelompoknya, berdiskusi, mempresentasi laporan, dan memajang hasil karya untuk dikomentari oleh orang lain merupakan bukti dan tanda bahwa mereka belajar secara aktif.

Jadi keaktifan siswa dalam dunia pembelajaran sangat penting bagi keberhasilan pendidikan itu sendiri, karena pada dasarnya guru dan pemerintah tak bias berperan sendiri tanpa peran siswa tersebut.dan keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh sejauh mana siswa tersebut memahami segala materi yang diberikan oleh gurunya, sehingga mampu untuk di implementasikan di kehidupannya sehari-hari.

System Pendidikan di Indonesia VS System Pendidikan Jepang

Alimi

Pendidikan di Indonesia adalah pendidikan yang menganut dalam system berjenjang. Dari mulai sekolah dasar, menengah sampai pada perguruan tinggi. Dengan system ini diharapkan setiap peserta didik mampu memperoleh pengetahuan atau ilmu susuai dengan batasan umur dan kemampauan mereka secara akademis. Di Indonesia ada beberapa jalur pendidikan seperti: jalur formal,non formal dan informal.
     Jalur pendidikan formal merupakan jalur pendidikan yang dilalui oleh peserta didik secara sadar dan terorganisasi sedemikian rupa menurut jenjangnya. Jenjang yang dimaksud adalah sebagai berikut: Jenjang pedidikan dasar, Jenjang pendidikan menengah, Jenjang pendidikan tinggi. Sedangkan Pendidikan Nonformal meliputi: Pendidikan anak usia dini, yang meliputi,, Pendidikan kedinasan, Pendidikan keagamaan, Pendidikan jarak jauh dan Pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus.
     Jika kita bandingkan sisitem di Indonesia dengan di Jepang maka hasilnya akan jauh berbeda, dari mulai tata kelolanya sampai pada perilaku siswa secara personal. Sistem pendidikan di Jepang dibangun atas empat tingkat, yaitu: pusat, perfektual (antara Provinsi dan Kabupaten), municipal (antara Kabupaten dan Kecamatan), dan sekolah. Sistem administrasi tersebut menerapkan kombinasi antara sentralisasi, desentralisasi, Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management), dan partisipasi masyarakat. Di samping itu, terdapat asosiasi-asosiasi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua yang mendukung pengembangan sekolah. Dalam sistem tersebut terdapat peran dan hubungan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, asosiasi-asosiasi tersebut, dan masyarakat yang saling mengisi sehingga tercipta sinergi yang memungkinkan sistem tersebut menjadi relatif efisien dan efektif. Hal ini merupakan faktor utama pencapaian mutu pendidikan di Jepang yang relatif tinggi.

Beberapa system yang di anut di Jepang:
A.    Pendidikan Prasekolah
     Pendidikan prasekolah dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu Kelompok Bermain (KB) atau Play Group (PG) dan Taman Kanak-Kanak (TK).
B.     Pendidikan Wajib
      Hampir semua siswa di Jepang belajar bahasa Inggris sejak tahun pertama SMP, dan kebanyakan mempelajarinya paling tidak selama 6 tahun. Mata pelajaran wajib di SMP adalah bahasa Jepang, ilmu-ilmu sosial, matematika, sains, musik, seni rupa, pendidikan jasmani, dan pendidikan kesejahteraan keluarga. Berbagai mata pelajaran tersebut diberikan pada waktu yang berlainan setiap hari selama seminggu sehingga jarang ada jadwal pelajaran yang sama pada hari yang berbeda.
C.     Pendidikan Menengah
    Ada tiga jenis SMA, yaitu: full time, part time (terutama malam hari), dan tertulis. Sekolah menengah yang  full time berlangsung selama 3 tahun, sedangkan kedua jenis sekolah lainnya menghasilkan diploma yang setara. Bagian terbesar siswa mendapat pendidikan menengah atas di SMA full time. Jurusan di SMA dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan pola kurikulum, yaitu jurusan umum (akademis), pertanian, teknik, perdagangan, perikanan, home economic, dan perawatan. Untuk masuk ke salah satu jenis sekolah tersebut, siswa harus mengikuti ujian masuk dan membawa surat referensi dari SMP tempat ia lulus sebelumnya.
D.    Pendidikan Tinggi
     Pendidikan tinggi di Jepang berada di bawah pengelolaan tiga lembaga, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Ada lima jenis pendidikan tinggi yang bisa dipilih mahasiswa asing di negara Jepang ini, yaitu: program sarjana, pascasarjana, diploma (non gelar), akademi, dan sekolah kejuruan. Program sarjana menerima tiga macam mahasiswa, yaitu: mahasiswa reguler, mahasiswa pendengar, dan mahasiswa pengumpul kredit. Mahasiswa reguler adalah mereka yang belajar selama 4 tahun, kecuali jurusan kedokteran yang harus menempuh 6 tahun. Mahasiswa pendengar adalah mahasiswa yang diijinkan mengambil mata kuliah tertentu dengan syarat dan jumlah kredit yang berbeda di setiap universitas tetapi kredit itu tidak diakui. Adapun mahasiswa pengumpul kredit hampir sama dengan mahasiswa pendengar, tetapi kreditnya diakui.

Jadi Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Indonesia memiliki daya saing yang rendah dan masih menurut survei dari lembaga yang sama di Indonesia hanya nerpredikat sebagai follower, bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Yang kita rasaskan sekarang adalah adanya ketertinggalan dalam mutu pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Pendidikan memang telah menjadi menopang dalam meningkatkan sumber daya manusia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain. Telah kita amati, nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal.